Wednesday, 17 May 2017

Pelangi dan Matahari.


Medina dan Baba berjalan ke sekolah tadi pagi, ditemani rintik-rintik hujan, sambil sesekali melewati genangan air. Hari ini mendung dan kelabu. Medina bertanya, mengapa tidak ada pelangi. Aku menjawab: karena untuk menciptakan pelangi, dibutuhkan matahari yang menyorot kuat dan bersahabat. 
Tiba-tiba saya teringat Indonesia. Tiba-tiba aku merindukan munculnya matahari yang bersinar tajam dan menaungi alam semesta negeri kita, agar semua warganya--ya, kita semua!--bisa menikmati warna warni pelangi di tanah air kita sendiri, sambil sesekali ngobrol santai menyeruput teh dan kopi dan bercanda ria seperti dulu lagi.

Monday, 10 April 2017

"Favourite film of each year of my life list", Indonesian style.

"Favourite film of each year of my life list", Indonesian style.

Beberapa pekan belakangan, ada beberapa orang menulis status FBnya dengan daftar "favourite film of each year of my life list". Karena masih ada semangat Hari Film Nasional, saya mau ikutan dan mengkhususkan pada film-film Indonesia yang sudah saya tonton saja.
Sayangnya, dalam beberapa kasus, saya sulit memilih satu film, karena itu dalam beberapa kasus saya tulis lebih dari satu film di tahun yang sama.
Kalau ingin ikutan, silahkan lho ya. Dan tolong tag saya di kolom komentar, ya? #kepomodeon

Berikut daftar saya.

1973 Si Mamat
1974 Bing Slamet Koboi Cengeng dan Raja Jin Penunggu Pintu Kereta.
1975 Samsom Betawi
1976 Si Doel Anak Modern
1977 Para Perintis Kemerdekaan dan Al Kautsar
1978 November 1828 dan Tuyul
1979 Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa
1980 Pengabdi Setan
1981 Gundala Putra Petir dan Jaka Sembung
1982 Bayi Ajaib
1983 Titian Serambut dibelah tujuh
1984 Sunan Kalijaga/Telaga Angker
1985 Doea Tanda Mata/Secangkir Kopi Pahit
1986 Naga Bonar/ Kejarlah Daku Kau Kutangkap/Ibunda/Matahari-Matahari
1987 Cintaku di Rumah Susun
1988 Tjoet Nyak Dhien
1989 Pacar Ketinggalan Kereta
1990 Taksi/Boneka dari Indiana
1991 Cinta dalam Sepotong Roti
1992 Ramadhan dan Ramona
1993 Badut-Badut Kota
1994 Pemburu Teroris
1995 Cemeng 2005
1996 - (tahun-tahun “mati suri” katanya, susah pilihnya, ada yang belum nonton juga)
1997 Daun Di atas Bantal
1998 Kuldesak
1999 Puisi Tak Terkuburkan/Petualangan Sherina
2000 Pachinko & Everyone’s Happy
2001 Jelangkung
2002 Eliana, Eliana
2003 Arisan!
2004 Impian Kemarau/Marsinah
2005 Rindu Kami Padamu
2006 Pocong 2
2007 Naga Bonar Jadi 2/Kala
2008 Kantata Takwa
2009 Jermal , Pintu Terlarang, , Keramat
2010 Alangkah Lucunya Negeri Ini/3Hati,2 Dunia, 1 Cinta
2011 Lovely Man/The Raid
2012 Kebun Binatang
2013 Sang Kiai, Sukarno
2014 The Raid 2
2015 A Copy of My Mind
2016 My Stupid Boss/Athira


2017 (belum banyak nonton film, belum sreg dengan film yang sudah ditonton)

Friday, 31 March 2017

Rasulullah, Pribumi, dan Pendatang

Nabi Muhammad saja langsung mempersaudarakan antara kaum Anshor ("pribumi" alias penduduk "asli" Madinah) dengan Muhajirin ("pendatang", yang hijrah dari Mekkah).

Dan dalam khutbah di Haji Wada' (Haji perpisahan/terakhir), ditegaskan lagi: “Ingatlah bahwa Rabb kalian itu satu, dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ajam (non-Arab), tidak pula orang ajam atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketakwaan.”.

Madinah adalah masyarakat plural, ada Anshor, ada Muhajirin, bahkan Salman dari Persia, ada juga kaum Badui. Ada Muslim, Yahudi, Kristen. Ada berbagai macam etnis dan kabilah-kabilah kesukuan. Mereka pun mengikatkan diri lewat Piagam Madinah dan piagam2/perjanjian2 dan kerjasama2. Mereka saling toleransi dan koeksistensi. Selama mengikuti kesepakatan bersama itu, tidak dipermasalahkan darimana orang itu berasal, atau apa agama dan etnisnya.

Monday, 9 January 2017

Lima hari di Negeri Sejuta Nguyen

Dimuat di Majalah Esquire Indonesia, Januari 2011.

Jalan-jalan ke Vietnam adalah menemukan surga belanja bagi orang Indonesia. Saya mengalaminya, pada 30 Juni-5 Juli 2010. Dan belanja murah  adalah kesan pertama saya tentang Saigon alias Ho Chi Minh City.

Opera House
Bayangkan, Dong, mata uang sana, kurang lebih adalah separuhnya Rupiah. Dan harga di sana, bahkan sebelum dirupiahkan, tergolong murah. Dan, tidak perlu pusing-pusing ke konter penukaran uang, cukup pakai kartu debit Anda dan tarik uang di ATM mana pun. Asyik, kan?
Sebenarnya saya tidak benar-benar berlibur. Saya ke sana dalam rangka konperensi Aseacc (Annual South East Asian Cinema Conference). Saya hadir bersama beberapa akademisi yang mendalami film, seperti Intan Tito Imanda, Paramaditha, dan Veronika Kusuma. Dan di sana saya juga bertemu dengan pakar sinema Asia Tenggara lainnya seperti Thomas Barker dan Gaik Cheng Khoo. Ada  pula produser Meiske Taurisina dan penulis skenario Prima Rusdi.
Namun, asyiknya, acaranya dilangsungkan di distrik satu, alias pusat kota yang menyajikan banyak hal untuk turis. Cukup berjalan 10 menit, maka kita akan tiba di Pasar Ben Tanh, pasar murah serba ada yang mirip Tanahabang. Dan ada banyak waktu luang di malam hari, juga ada waktu sehari sebelum dan sesudah konperensi. Maka jadilah saya dan rekan-rekan mengeksplorasi Saigon. Asyiknya lagi, di sana berjalan kaki, walau kadang ada “ancaman” dari kendaraan yang semrawut, tapi terasa aman,walau pun di malam hari.
Kembali ke soal belanja, dari awal istri saya sudah wanti-wanti untuk dibelikan mukena. Menemukan peralatan shalat di tengah-tengah kota komunis, mungkin seperti mencari jarum dalam jerami? Lihat saja, kota itu waktu itu dipenuhi oleh pernak pernik komunisme, mulai dari palu arit hingga bintang kuning-- Maklum, kala itu sedang peringatan besar-besaran 80 tahun komunisme di sana. Waktu saya diminta mencari mukena, tentu saja reaksi saya adalah: “Hah? Demi apa?”. Tapi dia bilang, temannya pernah dibelikan mukena di sana, dengan kualitas bagus dan harga murah. Cari punya cari, saya hampir tak ketemu. Saya sudah coba banyak kosakata: “prayer rug, mukena, muslim dress for praying”, mereka tidak mengerti—ah ya, banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, termasuk pihak restoran dan hotel—sampai tiba pada satu kata: “telekong!”. Ah, rupanya banyak turis Malaysia yang berbelanja di sini. Hal lain yang saya beli tentu saja adalah buah tangan untuk keluarga dan kolega kerja. Di pasar ini memang cukup lengkap untuk kebutuhan apa pun: baju tradisional Vietnam, bunga, makanan dan minuman, emas, souvenir, sandal, hingga perhiasan
Saya mendengar kabar dari Prima Rusdi, ada toko poster bernama Dogma. Isinya adalah poster propaganda waktu perang Vietnam. Sayangnya, setibanya di sana, kami mendapati harganya $30 ke atas. Maka, kami pun urung membeli, dan lebih melirik souvenir lain yang harganya lebih merakyat, yang tokonya tersebar di sekitar sana.
Bagaimana dengan makanan? Wisata kuliner adalah sensasi berikutnya. Saya dan kawan-kawan diajak Gaik,yang sudah lebih dulu di sana, untuk makan jajanan pinggir jalan. Maka jadilah kami makan Ipho,  makanan khas Vietnam, berisi mie, bakso,daging dan taoge, dengan tambahan irisan cabe. Sekilas mirip dengan gerobak bakso yang mangkal di ujung gang dekat rumah. Rasanya, mengutip Pak Bondan: Maknyus! Dan, sekali lagi: murah! Di malam pertama, kami diundang panitia konperensi ke restoran India halal, Tandoor Bistro (6 Hai Ba Trung, district 1). Di sana, untuk pertama kalinya, saya minum jus manggis. Rasanya kental-kental kecut manis.
Hal lain yang menyenangkan adalah, jarak tempuh Jakarta- Ho Chi Minh City tidak panjang—sama seperti Jakarta- Bandung, kurang lebih, dan tidak ada perbedaan waktu. Bandara Tan Son Nhat juga cukup bersahabat. Dan taksi pun tidak terlalu mahal. Seingat saya, yang termahal adalah ongkos taksi Bandara-Hotel, yaitu  300 ribu Dong alias Rp 150 ribu, untuk dua taksi. Dan itu pun, menurut saya, masih jauh lebih murah di bandingkan di Jakarta.
Bicara soal jarak tempuh, jika kita berada di pusat kota seperti daerah Ben Tanh Market, maka kita bisa mengunjungi museum atau tempat-tempat hiburan dengan cukup berjalan kaki. Misalnya, di tepi sungai bernama  Dam Sen Water Park.  Sepanjang perjalanan, banyak orang berjualan kaos souvenir, $10 untuk 3 buah. Juga ada biji kopi dengan berbagai variasi. Tempat lain adalah berbagai museum dan Gedung Opera. Dan, ini yang menarik, taman kota ada di mana-mana, gratis, rindang, dan besar. Bandingkan dengan Jakarta si kota berjuta mal alias hutan beton.
Restoran lain yang kami kunjungi adalah rumah makan khusus makanan khas Vietnam Tengah,  Quan An Hue (52 Hai Ba Trung). Di sini, mungkin kondisinya mirip dengan Kemang, harga-harga cukup tinggi.  Dari catatan Veronika di blognya, karena saya terlalu malas mencatat detil-detil, nasi dan makanan berat berharga minimal 75,000 dong, minuman jus 20,000 ke atas, teh 5,000 dong, pancake 45,000 dong (bandingkan dengan harga di jalan, 10,000 dong).  Kalau ingin merasakan sensasi restoran cina ala Mangga Besar, coba ke distrik 7,  di Lien Thai Tra Gia. Di sini,  dengan berbagai lauk pauk, kami bersepuluh menghabiskan  530,000 dong.
Kudapan lain yang saya rasakan di sana adalah panekuk khas berisi taoge, irisan bawang Bombay dan hewan laut, yang berukuran besar. Kali ini saya dan rombongan Indonesia ditraktir kak Yati Passeng, dari Universitas Hawaii  di Com Nieu Sai Gon (6C Tu Xuong). Sepertinya inilah restoran terlezat selama pengalamanan saya di sana.

Kala itu, demam Piala Dunia sedang melanda. Dan untunglah, Saigon adalah kota yang cukup gila bola. Kami berombongan pun ingin melihat pertandingan, karena televisi di hotel tidak menyediakannya, hanya ada TV kabel. Ada kafe Vasco (74 Hai Ba Trung), dan ternyata penuh.  Kami pun menikmati pertandingan di bar Phacaran di ujung gedung Opera untuk nonton pertandingan Belanda-Brazil. Suasana lain saya rasakan saat pertandingan Jerman-Argentina. Kami menonton bersama ratusan,mungkin ribuan, warga lokal di sebuah lapangan besar, dekat gereja Notre Dame. Layarnya berukuran raksasa. Mereka semua duduk rapi di kursi, dan berteriak-teriak mendukung kesebelasan favoritnya. Gerai makanan dan minuman bertaburan di mana-mana. Mirip dengan kala kita menonton layar tancap.
Bicara soal kafe, di sini begitu banyak kafe bertebaran. Kehidupan malam juga marak. Saya beberapa kali nongkrong di salah satu kafe dekat  tempat acara, untuk sekadar minum teh dan bercengkrama dengan teman baru dari berbagai penjuru dunia.Pasar Ben TanhPasar Ben Tanh
Sebagai  pengamat film, tentu kami tak lewatkan merasakan sensasi gedung bioskop. Maka kami pun beramai-ramai hadir ke  Dongda Cinema di district 7. Untuk ini, mau tak mau kami menyewa taksi. Kami memilih   Fools of Love, film komedi romantic karya Charlie Nguyen (seorang Vietnam yang tinggal lama di Los Angeles). Pada salah satu sesi di ASEACC, terkuak bahwa banyak sutradara muda  asal Saigon yang lahir dan besar di AS dan membuat film a la Hollywood di negeri aslinya. Dan asyiknya, ada teks bahasa Inggrisnya, sehingga kita bisa mengikuti jalan cerita. Dan siapakah pemeran utamanya? Dustin Nguyen. Yup, aktor yang di sini dikenal lewat serial TV 21 Jump Street. Harga tiketnya  50 ribu dong.  
Satu lagi pertunjukan khas Saigon adalah Water Puppet Show alias wayang air. Walau tak mengerti bahasanya, tapi kami semua menikmati sajian kisah dongeng klasik Vietnam yang begitu atraktif. Panggungnya adalah sebuah kolam besar, dan di pinggirannya para musisi membawakan score dan original soundtract. Mirip wayang golek, tapi ini dilakukan di air. Saya hingga sekarang masih bingung, bagaimana cara mengoperasikan boneka-boneka itu? Apakah para dalangnya menyelam, atau ada kayu atau tali panjang di bawah air? Harga tiketnya Cuma 80 ribu dong. “Belum ke Water Puppet Show, artinya belum ke Vietnam”, demikian promosi mereka di buklet, sepertinya ada benarnya juga.
 Sayangnya, saya tak banyak mengunjungi museum. Walau tak sempat ke Reunification Palace, tapi saya dan Nadi Tofighian, orang Iran yang warga Negara Swedia, mengunjungi  Revolutionary Museum yang berubah menjadi Museum Kota. Di sana, artefak dan arsip seolah bertutur tentang sejarah panjang negeri ini, yang mengalami beberapa perang besar. Tentu saja, fokusnya adalah  Paman Ho Chi Minh lengkap dengan foto-foto dan berbagai peninggalan perang dan kepahlawanannya. Mereka begitu menghargai tokoh-tokoh yang berjasa bagi kota itu. Sebenarnya museum ini gabungan dari Museum Jayakarta di Kota Tua dengan museum Gajah dan  Museum Satria Mandala yang banyak memamerkan kendaraan perang.
Sayang sekali, saya tak sempat mampir ke situs-situs di luar kota, seperti Chu Chi Tunnel yang membutuhkan waktu seharian untuk menikmatinya. Tapi, cukup di dalam kota, kita bisa puas mengeksplorasi keunikan dan kekhasan Ho Chi Minh City. (Ekky Imanjaya)
Dimuat di majalah Esquire

Sunday, 1 January 2017

Program-Program TV Favorit saya 2016

 Tahun 2016, saya jarang menonton film terbaru, khususnya yang beredar di bioskop. Selain waktu yang tersita di tesis dan lainnya, juga demi penghematan (maklumlah, mahasiswa beasiswa).  Tapi saya termasuk rajin menonton film dan program di televisi.
Image result for versailles bbc
Versailles: Raja Mentari dan wanita-wanita di sekelilingnya
Berikut adalah beberapa program TV favorit saya. Tentu saja, saya suka juga menonton Big Bang Theory, How I Met Your Mother, CSI, dan khususnya  Law and Order: Special Victim Unit  ,NCIS, Empire,  dan yang terbaru adalah The Goldbergs (karena nuansa nostalgia 1980an). Tapi yang di bawah ini adalah yang khas Inggris dan Eropa.
Sayang, The Returned ,   Black Mirror, Doctor Who, dan Sherlock belum ada lagi tahun 2016. Tapi Sherlock akan main lagi hari ini, 1 Januari.
Berikut beberapa di antaranya:

1.  Versailles (BBC Two)
Ini adalah kisah hidup Sang Raja Mentari, King Louis dari Prancis. Dialah pendiri istana Versailles dan terkenal dengan pernyataan "Aku Adalah Prancis".
Cerita yang mengalir dan penuh konflik, tata budaya dan tata seni yang detil dan sangat mirip dengan aslinya (dengan riset yang begitu mendalam), adalah faktor keberhasilan "sinetron" ini. Desain produksinya kelas dunia. Dan perilaku di dalam istana beserta intrik-intriknya, juga digambarkan secara gamblang dan apa adanya. Termasuk adegan telanjang dan seks yang panjang, tidak hanya dengan lawan jenis tapi juga sesama jenis, yang sempat mengundang kontroversi di Inggris.




Selain menghibur, film ini juga membuka wawasan saya seputar bagaimana berpolitik. Termasuk pemilihan istri dan selir, serta berdiplomasi dengan negara tetangga.
Tak hanya itu, setelah acara itu, ada program khusus sekitar 10 menit, yang mengupas dengan dalam tentang hal-hal yang ada dalam cerita. Inside Versailles mengundang pakar sejarah kostum, sejarah musik dan seni budaya, untuk membahas acara itu, termasuk menghadirkan dan menganalisa lukisan-lukisan terkenal serta peta dan dokumen resmi kerajaan asli lainnya. Tentu ini menarik karena menjembatani antara serial televisi yang, bagaimana pun, "fiksi", dengan fakta-fakta dan ulasan akademis bidang sejarah

Inside Versailles:

2. Victoria (ITV)
Awalnya, saya menonton karena yang jadi Ratu adalah Jenna Coleman, yang adalah Clara sang Impossible Girl, companionnya Doctor Who favorit saya. Tapi ini juga serial yang menarik, tentang bagaimana jika seorang wanita menjadi Ratu di era patriarkal masih merajalela, dan berbagai hal kewanitaan (harus menikah, memilih suami, hingga melahirkan) diatur sedemikian rupa.



3.  Muslims Like Us (BBC Two)
Inilah kisah miniatur kehidupan. Belasan Muslim dari berbagai latar belakang (dari sunni hingga syiah, dari imigran hingga mualaf bule, dari pendukung ISIS hingga gay) di Inggris dikumpulkan di satu rumah. dan dialog pun dimulai, acap kali begitu panas dan meradang. Kadang, beberapa orang non-Muslim diundang untuk berdialog.
Dokumenter dua episode ini penting karena publik Inggris seperti disingkapkan bahwa wajah Islam itu tidak satu, dan ada berbagai macam varian ideologi dan sikap hidup. Juga bahwa seorang Muslim adalah manusia yang manusiawi, dapat tertawa dan terluka.
episode 1: 

Episode 2:



4. Doctor Who Special Christmas (BBC One)
Tentu saja Doctor Who adalah yang paling saya tunggu tahun ini, karena sudah setahun tidak ada lagi yang baru. Dan Steven Moffat pun menyajikan cerita yang keren: tentang seorang pria muda yang secara tak sengaja menelan pil dari luar angkasa (yang hanya ada 4 di seluruh jagat) dan menjadi superhero--tentu karena ini ulah Sang Doctor.


5. Humans musim  2 (Channel4)
Bagi saya, memproduksi film atau program TV sci-fi tidak harus dengan efek spesial yang menelan banyak biaya, tapi yang penting adalah cerita yang kuat, dan pernyataan/pandangan-dunia yang kental tentang semesta fiksi ilmiah, khususnya perspektif seputar Fantasi Nasional. dan Humans adalah kisah drama biasa, dengan latar belakang dunia robot yang mulai berkembang dan berdampak sangat besar bagi keseharian umat manusia.


6. Robot Wars (BBC Two)
Seandainya masa SMP saya menonton acara ini, mungkin saya akan memilih jurusan Fisika untuk kemudian masuk kuliah komputer atau teknik yang ada ilmu robotiknya. Ini program yang memadukan semangat bermain-main dan keterampilan games (budaya pop), kemahiran merumuskan taktik dan strategi pertempuran (militer/olahraga), dan keahlian mendesain membuat robot pembunuh nomor wahid (iptek).



7. Dragon's Den (BBC Two)
Empat orang pengusaha superkaya yang sukses akan memberikan modal dan menjadi pembimbing bagi seorang atau sekelompok pengusaha yang baru, kalau mereka mampu meyakinkan mereka bahwa produknya akan laku di pasaran. Inilah saatnya belajar bisnis, bagaimana mengolah presentasi yang paten dan tak terbantahkan, dan bagaimana mengantisipasi pertanyaan bahkan serangan yang tak terduga.
Ada kalanya saya merasa produknya sangat unik dan bakalan laku di pasaran serta keterampilan presentasi yang meyakinkan, dan salah satu atau dua dari para Dragon akan memberikan dananya. Namun rupanya tak mudah meyakinkan para pengusaha senior itu, dan ada saja celah yang mereka lihat.





8. Graham  Norton Show (BBC One)



Karena di London, dan karena BBC One, para tamu di acara bincang-bincang ini adalah bintang kelas A semua. dan Graham bisa, walau kadang  bitchy dan menyindir, memperlakukan mereka dengan terhormat dan mengungkap sisi-sisi lain yang jarang diungkap.



9. Michael McIntyre’s Big Show (segmen Celebrity Send It All dan Unexpected Star of the Show) (BBC One).

Dalam Celebrity Send It All, seorang tokoh diminta untuk menyerahkan telepon genggamnya, dan sang pembawa acara akan menulis pesan SMS konyol ke semua orang yang ada di dalam kontaknya (kadang itu jaringan kerja puluhan tahun). Dan jawaban-jawabannya kadang tak terduga.
Surprise mengisahkan satu atau sekelompok orang biasa-biasa saja yang "dijebak" ke studio untuk melakukan pentas, dan kadang mengharukan.

Lainnya:
10. QI (BBC Two)
Membahas soal trivia dan hal-hal menarik seputar iptek dan budaya pop. Tahun ini, Stephen Fry diganti dengan Sandi Toksvig


11. The Victorian Slums (BBC Two)

Saya selalu bertanya-tanya: Bagaimana nasib orang fakir miskin, gelandangan, di negeri empat musim? Kalau di Indonesia, mereka bisa tidur di mana saja, kolong jembatan atau pinggir jalan. Nah, program ini merekonstruksi kehidupan miskin di East End di London (sebagai lawan dari West End yang serba berkecukupan) di era Victoria (1860an-1890an). Mereka tinggal dengan kehidupan dan fasilitas yang sama dengan era tersebut (termasuk anak-anak), dan penonton disajikan bagaimana dinamika konflik  berjalan: anak-anak yang terpaksa bekerja, para pengangguran yang kucing-kucingan dengan pemilik kos, kamar yang tidak layak huni, sanitasi dan air yang kotor, dan sebagaimanya.
Salah satu yang menarik, rupanya pernah ada riset mendalam tentang ini, yang melakukan pemetaan tentang orang-orang miskin, yang begitu detil hingga orang bisa tahu data-data tiap orang di tiap kamar dan rumah di East End, untuk kemudian dicari solusinya (misalnya dengan adanya rumah singgah, atau wajib belajar bagi anak-anak yang bermasalah karena mereka lebih suka cari uang).

Jika berminat dan  punya apps IPlayer, atau lainnya, silahkan ditelusuri.

Friday, 30 December 2016

Kiprah di 2016

Tahun 2016 adalah tahun duka cita. Banyak tokoh meninggal dunia. Keadaan Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan umat Islam dan keindonesiaan, tak kunjung beranjak menuju titik cerah.

Tentu saja banyak yang menggembirakan. Untuk level pribadi, kemajuan pesat anak saya, Medina Azzahra, adalah salah satunya (untuk ini, akan saya tulis di blog Medina). 

Sebagai mahasiswa S3,  dan terkait dengan tema riset saya seputar film cult, eksploitasi, dan B dari Indonesia, tahun ini saya tidak terlalu banyak berkiprah secara akademik, karena mengejar tenggat waktu pengumpulan tesis. Tapi ASEASUK adalah salah satu konperensi terbaik, dan terakhir, sebagai kandidat PhD.  Tapi, Insya Allah, tahun depan akan ada beberapa paper akademis saya yang dimuat di beberapa jurnal. Tunggu tanggal mainnya.

Sebagai penulis, saya berhasil menulis beberapa tulisan popular yang   dimuat di media besar seperti Kompas, Tempo, dan Rolling Stone Indonesia. 

Berikut adalah kiprah saya yang bisa saya sumbangkan untuk masyarakat sekitar.



16 February : diwawancarai oleh Cinema Poetica soal Kritik Film . Setelah itu, pada 30 April, CP juga memuat ulang paper lama saya seputar film cult/exploitasi Indonesia.


13 March, hadir di Indonesian Scholar Forum di Warwick University sebagai kordinator bidang Sen-Budaya-Agama.


7 Mei:  Brisik Band first performance, Trinity Center, Bristol.


18 Juni: Setelah lama tak dimuat di Kompas, akhirnya bersama Shandy Gasella saya masuk rubrik kolom di Kompas: http://findingjakasembung.blogspot.co.uk/2016/06/dimuat-di-kompas.html



28 June; Diwawancara  Radio PPI UK  Soal Integrated Box Office System.
  
29 Agustus 2016 Tulisan Pertama kali dimuat di Tempo sebagai Kontributor: 

10 September:  with Toby Reynolds, co-organized a double bill screeningsLady Terminator and Killing of Satan at The Cube Microplex for Scalarama Film Festival: 

16-19 September Co-organized a panel and presented a paper at Aseasuk  at SOAS London.  One of the best conferences I ever attended as a PhD student. and the last one as well.

3 October: Menulis soal Usmar Ismail di Rolling Stone Indonesia.

Ada satu lagi, yang paling menggembirakan tahun ini, dan sepertinya salah satu pencapaian terbesar saya selama ini. Tapi akan saya umumkan secara resmi di awal Februari.

Selamat tinggal 2016. Selamat datang 2017. Semoga doa, harapan,  dan mimpi kita semua terwujud.
Amien.

Tuesday, 6 December 2016

Dangdut Rasa Londo

Orang Indo di Belanda bermain Indo-rock atau keroncong? Itu sudah biasa. Tapi Dangdut? Bahkan merekam suara Inul Daratista yang belum lagi ngetop saat itu, Apalagi merilis album? Itu hanya dilakukan oleh Bule Dangdut.

“Sepertinya Bule Dangdut adalah band bule pertama dan satu-satunya di Belanda,” ungkap Patrick Kerger, sang gitaris, saat bertemu penulisAwalnya pertemuan itu untuk membahas 21st Rock n Roll, album terbaru Tjendol Sunrise, band Patrick sekarang, hasil kolaburasi dengan Andy Tielman. Diskusi mengalir, dan Bule Dangdut pun dibahas.
Dangdut Bule adalah Haroen Berghuis (vocal, gitar, drum track), Peterbas Schutte (Keyboards, drum track), Patrick Kerger (gitar utama), dan Marc Doornweerd (Bas). Dua yang terakhir ini lantas membentuk band bergenre indo-rock, Tjendol Sunrise pada 2000.
Album pertama, Awet Muda, direkam di Amsterdam, 1999, dan Pasar Malam menjadi sasaran pemasaran. Sampulnya adalah wayang golek dan gitar Fender Stratocaster. Album ini berisi lagu-lagu dangdut yang sudah terkenal di tanah air yang di sampulnya dikomentari mereka secara singkat dan jenaka. Benang Biru dari Fazal Dath diceletuki sebagai “als ikke merindu”, dan Lebih baik sakit Gigi diberi catatan “daripada dangdut asli lebih baik dangdut bule ini”. Lagu lainnya adalah Bule Bule (Fazal Dath), Kata Pujangga (Rhoma Irama), dan tentu saja Awet Muda (Rhoma Irama). Nuansanya agak berbeda dengan dangdut pada umumnya. Suara Haroen yang yang kental dengan cara bicara bule yang seolah tertahan serta nuansa padang pasir semacam gambus adalah salah satu ciri yang menonjol. Rindu Menanti, misalnya, diramu lebih akustik dan santai. Benang Biru disisipi dengan nada pentatotik Sunda dan duet gitar melodi. Penantian dari Mansyur S digarap dengan agak bossanova.
Di ajang Pasar Malam, pesta budaya campuran Indonesia dan kolonial Belanda, mereka mendapatkan banyak penggemar. Salah satunya adalah Reggie Tielman, satu dari dua anggota The Tielman Brothers yang hingga sekarang masih hidup dan mukim di Slotermeer, Amsterdam, dan kini sakit-sakitan.
Di album terakhir, Belandut (2001), mereka menemukan bintang baru: Inul Daratista. “Mungkin, kami adalah orang pertama yang membuat rekaman Inul. Saat itu dia belum terkenal dan belum membuat album,” ungkap Patrick. Bahkan, untuk kepentingan publikasi di sampul belakang dipajang foto Inul dan Haroen dan diberi judul Haroen Berghuis & Inoel Daratista in "De Bronnen van de Liefde.”Saat itu banyak orang yang suka. Pihak Pasar Malam di Den Haag meminta kami mencari seorang penyanyi dangdut, “ungkap Patrick. Kebetulan, saat itu, Inul sedang manggung di Pasar Malam. “Maka, kami pun merekam suaranya sebelum ia manggung”. Caranya cukup sederhana: Inul van Soerabaja mendengarkan aransemen mereka dari headphone, dan langsung direkam. Dua lagu itu bertajuk Sungguh Sayang dan Bisik Tetangga dan direkam pada Juni 2000, setahun sebelum album ini rampung.

Mereka bahkan membuat lagu khusus sebagai pengantar: Lebih baik Inoel. berdurasi semenit dan hanya berisi vocal dan a capella dan pengantar dari Inul: “Masih bersama Dangdut Bule untuk Anda semua, saya akan berduet dengan Mister Haroen…”.
Tamu lain adalah Age Nebiish Klesmer Orkest di tembang Gadis Hindia. Di album kedua itu, mereka sudah merekam lagu-lagu karangan sendiri, yang sebagian besar digarap oleh Berghuis. Di antaranya Huil iet Meer, dan Schral onvruchtbaar Zand. Untuk Huil niet Meer, lagi ini tercipta atas permohonan DJ Babba dari London. Album kedua ini diperkuat pula oleh Maxim van Wijk, penggebuk perkusi.
Latar belakang budaya Indo dan letak geografis yang jauh dari asal dangdut membuat racikan Dangdut Bule bereksperimen dan menciptakan genre hibrida. Sayang, band itu tak bertahan lama. Kini, albumnya menjadi harta karun bagi kolektor benda budaya langka. Dan saya beruntung mendapatkan keduanya.(Ekky Imanjaya, pengamat Indo-rock, Amsterdam)

Dimuat di Majalah Trax edisi Desember 2008